Memories

Hai.
Masih ku ingat jelas saat pertama kali pertemuan itu.
Ada perasaan berbeda saat aku melihatmu.
Mungkin benar bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya.

Menatap matamu.
Melihat senyummu.
Mendengar suaramu.
Memperhatikan setiap gerakmu adalah hal yang paling aku suka.

Satu pertanyaan yang selalu hadir di dalam benakku, "apakah suatu saat kamu bisa menjadi milikku?"
Ku rasa tidak.
Ku rasa ini hanya sekedar suka.
Ku rasa ini hanyalah perasaan sementara.

Tapi ternyata aku salah.

Pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya membuatku semakin menyukaimu.
Bahkan aku bisa menyimpulkan bahwa aku jatuh cinta padamu.
Setiap saat aku selalu berharap agar bisa dekat denganmu.
Aku selalu berusaha mencari perhatian, agar kau bisa memperhatikanku.
Walau sejenak.

Aku menyadari semuanya.
Siapa aku.
Hanya apa aku.
Adalah mimpi jika aku bisa mendapatkanmu.

Seseorang yang begitu baik.
Seseorang yang begitu lucu.
Seseorang yang begitu tegas.
Seseorang yang begitu menarik.
Bagiku.

Detik berlalu, hari pun berganti.
Perasaan itu masih ada.
Meski kamu tidak menyambutnya.

Perasaan yang tidak pernah terungkap.
Perasaan yang ku biarkan terpendam.
Perasaan yang mungkin harus ku kubur dalam-dalam.

Dan benar,
Perasaan itu harus ku kubur dalam-dalam.
Setelah hari demi hari berlalu, pada akhirnya kamu harus pergi.

Sedih saat ku tahu kamu tak lagi disini.
Sedih saat membayangkan esok takkan ada lagi sosok dirimu.
Tak ada lagi senyumanmu.
Tak ada lagi canda tawamu.
Tak ada lagi..

Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan.
Yang tersisa hanyalah kepingan khayal.
Yang tersisa hanyalah aku sendiri.
Berteman sepi.
Bersama rindu.

Mengapa waktu berlalu begitu cepat?

Perlahan ku coba menjalani hari-hariku.
Menerima kenyataan bahwa mungkin kau tak akan pernah kembali lagi.

Perlahan tapi pasti ku yakinkan diriku bahwa aku sudah bisa melupakanmu.
Melupakan rasa itu.

Hingga aku sampai pada titik, ternyata aku sudah tidak mencintaimu lagi.
Aku berhasil.
Membunuh segala rasa yang dulu ada padamu.
Sampai pada titik dimana mendengar namamu terasa biasa saja.
Sampai pada titik dimana kamu tak lagi istimewa untukku.

Ku nikmati hari seakan tak pernah ada kamu di hidupku.

Kembali tersenyum.
Kembali tertawa.
Kembali jatuh cinta.
Kembali menaruh harap pada orang lain.

Sampai pada suatu hari,
seorang teman berkata padaku bahwa kamu menyukaiku.

Aku terdiam tak percaya.
Hatiku bertanya-tanya.
Bagaimana mungkin kamu menyukaiku?
Sedang selama ini kau terlihat biasa saja.
Tak menandakan bahwa kamu menyukaiku.

Ku pupuk dalam-dalam harapan itu.
Menganggap perkataan itu hanyalah sebuah gurauan.

Kembali ku jalani hari seperti biasa.

Sampai tiba saatnya.
Hari itu kamu mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku.
"Hai", katamu.

Sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaanku pada saat itu.
Aku kembali merasakan hal yang sama seperti dulu.
Saat pertama kali kita bertemu.
Saat pertama kali aku menyukaimu.

Ku balas pesanmu.
Kamu lucu.
Sangat lucu.
Aku kembali jatuh cinta padamu.

Tidak memerlukan waktu lama, tiba-tiba saja kamu mengatakan bahwa kamu menyukai aku.

Aku kembali terdiam.
Aku ragu.
Jujur saja aku sangat ragu.

Banyak sekali pertanyaan yang ada dipikiranku pada saat kamu menyatakan perasaanmu.

Apa kamu serius?
Sejak kapan kamu menyukai aku?
Bagaimana bisa kamu menyukai aku?
Atau mungkin kamu sedang bergurau?

Padahal dulu kita sama sekali tidak dekat.
Jangankan berbicara empat mata.
Saling sapa melalui pesan singkat pun tidak.
Lalu bagaimana caranya tiba-tiba kamu bisa menyatakan cinta padaku?

Kita belum mengenal satu sama lain.
Aku tak tahu bagaimana kamu, dan tentu kamu tidak tahu bagaimana aku.
Kebiasaan-kebiasaanmu.
Kesukaanmu.
Aku tidak tahu apa-apa tentangmu.

Bagaimana cara meyakinkan diriku bahwa kamu benar-benar serius kepadaku?
Itu yang membuatku ragu.

Pada akhirnya dengan caramu yang lucu itu kita berdua menjalin sebuah hubungan.
Kamis, 8 Februari 2018.

Masih tak terlintas dibayanganku, bahwa kini kamu menjadi milikku.

Seseorang yang dahulu aku impi-impikan.
Seseorang yang dahulu selalu aku sebut dalam do'aku.
Seseorang yang dulu ku pikir tak akan pernah bisa bersamaku.

Sekarang,
Namamu lah yang pertama kali ku lihat dilayar handphone ku pagi hari.
Pesan darimu lah yang ku terima setiap hari.
Cerita tentang keseharianmu.
Keluh kesahmu.
Hari-hariku selalu tentang kamu.

Maaf, jika sampai saat aku menulis tulisan ini aku masih meragu kepadamu.
Tapi satu hal yang harus kamu tahu.
Aku senang.
Sangat senang.

Bisa berbagi cerita kepadamu.
Kamu memberikan pelajaran kepadaku tentang pengertian dan kepercayaan.

Aku harus mengerti bagaimana kesibukanmu.
Mengerti bahwa tak setiap waktu kau harus memberiku kabar.
Aku harus percaya bahwa kamu tak akan melakukan hal-hal yang bisa menyakiti perasaanku.
Ku percayakan itu padamu.

Tak peduli walau jarak memisahkan kita.

Aku mencintaimu.
Aku menyukai sikapmu.
Pemikiranmu.
Tingkah lucumu.
Kedewasaanmu.

Terimakasih telah memberikan kesempatan untuk bersamamu.

Karawang, 14 Februari 2018.
Venitanf.

You Might Also Like

14 komentar

  1. Keren mbak blogNya������

    BalasHapus
  2. Kenangan dari sang mantan yaah? haha dalem banget...

    BalasHapus
  3. Semangatt . Jangan lupa kunjungi rifaiarsandi46.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Mantap,siapa tahu mbak jadi sastrawan profesional.
    Kalo bisa cari tema yang lain yaa..., selebihnya sudah bagus.

    Teruskan lagi karyamu untuk membanggakan bangsamu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terimakasih untuk sarannya kak. :)

      Hapus
  5. kok berasa cerita nyata ya , apa mungkin ini emang cerita nyata nya admin :v hehe , ditunggu yang baru nya ka , jngan lupa kunjungi blog ane https://infohaqiqih.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini emang cerita nyata kak, hehe. Terimakasih sudah mampir. :)

      Hapus