Pengalaman Absurd Kerja Di Toko Bangunan


Halo guys, balik lagi bersama venitanf di blog gue yang absurd ini. Di postingan kali ini gue mau menceritakan pengalaman gue bekerja di toko bangunan. Langsung aja ya.

Hari Rabu tanggal 04 April 2018, papah gue dikasih tau kalau ada lowongan kerja di toko bangunan. Bilangnya sih buat bagian yang nulis-nulis bon aja.

Gue nggak percaya. Mana mungkin cuma nulis bon aja. Gue langsung ngebayangin nanti kerjaan gue ngangkat-ngangkat semen, pasir, dan lain-lain, haha.

Malam harinya, setelah gue mikir, gue langsung menolak tawaran bekerja di toko bangunan itu. Entah kenapa gue selalu memilih untuk tetap bekerja di tempat kerja gue saat ini (toko kue).

Tapi papah gue bilang nggak ada salahnya buat nyoba. Siapa tau gajinya lebih besar. Siapa tau pekerjaannya lebih baik. Mamah gue juga bilang ya itung-itung buat pengalaman.

Mungkin sebenarnya alasan mereka mendukung gue buat ngambil tawaran kerja itu adalah karena di toko bangunan itu gue nggak pulang malam. Kata papah gue, disana jam kerjanya mulai pukul 07:00 sampai pukul 17:30.

Beda dengan kerjaan gue di toko kue yang memberlakukan sistem shift. Kalau shift closing, gue harus pulang jam 10 malam.
Papah gue bilang, "Enak di toko bangunan itu mah pulangnya sore, nggak malam. Kamu tuh perempuan, masih muda, kerja pulang malam-malam, mandi malam. Lagian takut dijalannya, pulang malam."

"Iya, mamah aja belum bisa tidur kalau kamu belum pulang." tambah mamah gue

Setelah gue pikir-pikir lagi, bener juga kata orang tua gue. Nggak ada salahnya buat nyoba. Itung-itung buat nambah pengalaman. Toh, kebetulan besok gue libur kerja. Jadi gue bisa datang ke toko bangunan itu.

Malam itu gue langsung menuliskan surat lamaran.

Kamis, 05 April 2018.

Hari ini gue bangun pagi-pagi untuk bersiap pergi ke toko bangunan. Sebenarnya hari ini gue ada janji sama teman gue. Tapi karena tawaran pekerjaan itu, dengan terpaksa gue harus mengundur janji gue. Gue langsung menjelaskan kepada teman gue, dan untungnya dia bisa mengerti.

Sekitar pukul 06:40 gue ikut orang tua gue untuk menemui orang yang menawarkan pekerjaan itu.

Gue dan orang tua gue menemui istri si pemilik toko bangunan, sebut aja ibu TB (toko bangunan) di depan sekolah Yos Sudarso. Ibu TB menyuruh gue untuk langsung datang ke toko. Gue nggak bisa bareng sama dia karena dia masih menunggu anaknya di sekolahan.

Gue dikasih tau nama dan alamat toko bangunan tersebut. Gue langsung memesan ojek online untuk kesana. Sesampainya di toko bangunan, si abang ojek online bilang sama gue, "Nanti kalau mau pulang sama saya aja ya", "Oke" kata gue.

Turun dari motor, semua mata tertuju pada gue. Gue langsung menghampiri yang punya toko bangunan. Alias istri si ibu TB tadi, alias bapak TB.

Seperti pertemuan pertama pada umumnya, bapak TB melihat-lihat surat lamaran gue. Setelah itu dia langsung menjelaskan soal sistem kerja dan gaji. 

Jam kerja dimulai pukul 07:00 sampai pukul 17:30. Bapak TB menyebutkan gaji yang memang lebih besar daripada di toko kue. Tapi yang bikin gue terkejat-kejut adalah saat bapak TB bilang kalau liburnya hanya sekali dalam sebulan. 

Gue langsung menanyakan kembali pernyataan itu, "Liburnya 1 bulan cuma sekali, Pak?" 

"Iya disini juga nggak ada alasan nggak masuk. Misalnya alasan nenek sakit, kan masih ada orang di rumah." jawab bapak TB

Gue terdiam. Dalam hati gue ngomong, "Anjay."

"Di sini juga kerjanya harus bisa main harga. Misal harganya 10.000, kamu bisa jual 12.000, jangan malah jual 9.000 nanti kita rugi." kata bapak TB
"Berarti harus hapal semua harga ya pak?" tanya gue
"Iya tapi udah ada kodenya nanti kamu hapalin."
"Kalau gitu saya mulai kerja kapan pak?"
"Sekarang boleh, besok juga boleh."
"Ya udah mulai sekarang aja Pak."
"Ya udah sini masuk."

Gue pun masuk ke dalam. Melihat-lihat di sekeliling gue. Cat, tiner, paku, obeng, tang, dan peralatan bangunan lainnya yang gue nggak tau. Bapak TB menyuruh gue menaruh tas. "Tasnya taruh di situ aja gantungin. Nanti kalau mau minum ke belakang aja. Ada air panas, air dingin juga ada."

"Iya pak." kata gue

Gue bingung harus ngapain, wkwk. Gue cuma mondar-mandir memandangi alat-alat bangunan. Nggak lama kemudian bapak TB memberi gue sebuah kode. Bukan kode buat jadian ya, haha. Kurang lebih kayak gini kodenya.

Gue baru tau kalau di setiap barang di situ udah ditulisin kode. Misalnya di kaleng cat ada kode ZLW berarti harganya adalah 27.000.

Bapak TB juga menjelaskan ke gue beberapa barang-barang yang ada di situ. "Ini buatan Inggris, nah yang ini buatan Jepang." 

Gue mah iya-iyain aja, haha.

Setelah itu bapak TB pergi meninggalkan gue. Pas gue nengok ke sebelah kiri, gue melihat para abang-abang bangunan. Mereka melihat ke arah gue. Gue cuma bisa nyengir. Kan nggak mungkin gue langsung bilang "Hei whats up brother. Apa kabar bro?" haha.

Salah satu dari mereka nanya ke gue,

"Dari mana teh?"
"Dari tadi." jawab gue sambil tersenyum 

Mereka semua langsung tertawa. Tiba-tiba bapak TB memanggil gue.

"Sini neng saya ajarin bikin kopi." kata bapak TB
"Bikin kopi?" tanya gue heran
"Iya nanti kalau ada tamu ke sini, kamu saya suruh bikin kopi. Saya ajarin dulu biar bisa."
"Saya juga sering bikin kopi pak, setiap hari malah."

Tanpa menghiraukan perkataan gue, bapak TB berjalan ke dapur. Gue pun mengikutinya.

"Nih ini kopinya. Ini air panas. Nah ini gelas. Kalau gelasnya kotor dicuci dulu ya. Pertama kamu masukin kopinya, habis itu masukin airnya, nah kalau pakai gelas kayak gini airnya segini aja. Terus diaduk. Udah jadi, tuh kamu minum aja." kata bapak TB sambil membuat kopi

"Iya pak" dalam hati gue ngomong, "Ya elah, Malih. Gue juga kalau bikin kopi kayak gitu."

Absurd banget parah, haha.

Gue pun kembali ke depan. Melihat-lihat lagi di sekeliling gue. Gue melihat berbagai jenis bahan bangunan, dengan merek yang berbeda, ukuran berbeda, dan harga yang berbeda.





Gue menatap kedepan. Melihat beberapa mobil kol buntung, tumpukan pasir, besi, batu-bata, semen.




Gue pun menghampiri beberapa driver bangunan di situ. Ada satu orang yang nanya mulu ke gue, sebut aja namanya abang bangunan.

"Dari mana sih teh?" tanya dia 
"Dari tadi." jawab gue sambil tertawa 
"Yeh yang bener."
"Dari Cinangoh." 
"Oh, Cinangoh."
"Tau nggak?" tanya gue
"Enggak." jawab dia sambil tertawa 
"Ya pokoknya di situlah. Ke arah Johar." kata gue 
"Oh Johar, deket atuh saya dari Warung Bambu."
"Oh gitu."
"Tadi ke sini naik grab ya? Nanti mah bareng aja sama saya" 
"Iya, kalau saya masih di sini ya." jawab gue
"Maksudnya?" tanya dia heran
Gue pun pergi meninggalkan dia.

Gue kembali melihat sekeliling gue. Kotor, berdebu, asap rokok. Semua cowok ngerokok di sana. Ada sekitar 5 orang menghembuskan asap rokok.

Gue cuma bisa menggelengkan kepala.

Gue pun mulai bekerja. Setiap ada orang yang datang gue tanya mau beli apa. Gue menuliskannya dan mencari barangnya. Jujur gue kesulitan. Maklum baru hari pertama. Gue nggak tau barang yang dia mau itu apa, letaknya dimana, harganya berapa. Biasa megang kue sekarang gue megang alat-alat bangunan, haha.

Pagi itu pembeli nggak henti-hentinya berdatangan. Oh ya FYI, di tempat itu ada gue, bapak TB, ibu TB, dan satu pekerja lainnya. Seharusnya ada satu lagi tapi katanya lagi libur. Dan ada sekitar 5 orang yang bekerja sebagai pengantar barang bangunan disitu.

Hari pun semakin siang. Gue terdiam sejenak. Pikiran gue menerawang. Apakah gue harus mengambil pekerjaan ini? Sekali lagi gue memperhatikan di sekeliling gue. Membayangkan gue harus bekerja di situasi yang seperti ini.

Gue membuka hp gue. Meminta pendapat kepada papah gue. Tapi dia bilang, terserah gue. Oke setelah gue pikir-pikir, gue nggak bisa ngambil pekerjaan ini dengan alasan sebagai berikut :

1. Liburnya hanya sebulan sekali. Gue nggak mau menghabiskan waktu gue di tempat toko bangunan.

2. Gue nggak suka kerja di toko bangunan. Walaupun liburnya sebulan sekali, kalau misalnya ini adalah toko buku, mungkin akan gue ambil.

3. Tempat dan orang-orangnya membuat gue nggak nyaman. Terutama asap rokoknya. Gue masih sayang sama paru-paru gue.

Jadi yang gue pikirkan saat itu adalah, gimana caranya gue bisa balik dari toko itu.
Gue pun menyusun sebuah strategi. Gue bertanya ke abang bangunan yang tadi.

"Disini kalau makan siang biasanya gimana?" tanya gue
"Ya beli makan keluar, mau nitip?"
"Nggak deh, nanti aku beli makan sendiri aja keluar."
"Oh yaudah, nanti pulangnya mau bareng nggak?" tanya dia
"Ya kalau aku balik lagi kesini ya, haha"
"Maksudnya?"
Gue hanya menjawab pertanyaan dia dengan senyuman.

Gue kembali membuka hp gue. Berkali-kali gue melihat jam. Akhirnya sekitar pukul 12:00 siang gue memutuskan untuk melancarkan strategi gue. Gue menghubungi abang ojek online yang tadi pagi mengantar gue.




Tapi kata dia, posisi dia jauh. Yaudah akhirnya gue pesan secara online. Gue pesan sama abangnya supaya jangan jemput tepat di lokasi. Gue minta agak depanan sedikit.

Kebetulan di tempat cuma ada bapak TB dan abang bangunan. Gue langsung nanya ke bapak TB, "Pak, kalau mau beli makan keluar boleh?", "Yaudah sana", kata dia.

Gue mengambil tas gue lalu melihat-lihat toko bangunan itu untuk terakhir kali sebelum akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Gue melewati abang bangunan sambil senyum.

Gue langsung menghampiri abang ojek online yang menunggu gue di tukang tambal ban dekat toko bangunan.

"Kenapa mbak? kabur ya? hehe", tanya dia
"Iya mas saya kabur, hahaha." jawab gue 
"Kenapa?" tanya dia lagi
Terjadilah curhatan absurd gue dengan si abang ojek online sepanjang perjalanan.

Setelah sampai dirumah gue langsung mandi, makan, dan lain-lain. Gue juga langsung ngabarin teman gue karna gue nggak mau ngingkarin janji gue.

Akhirnya sekitar pukul 15:00 gue ketemuan sama teman gue untuk COD tiket seminar. Jadi gue dan teman gue itu mau ikutan seminar creative content digital gitu tanggal 29 April. Nanti pasti bakal gue ceritain di blog gue tentang acara itu.



Setelah mengambil tiket, gue dan teman gue langsung menuju Techno Mart untuk nonton film di CGV. Setelah sebelumnya kami berdebat mau nonton apa, akhirnya kami memutuskan untuk nonton film Teman Tapi Menikah. Kami kebagian jadwal pukul 17:10.

Sekalian review film, menurut gue film ini nggak lebih baper daripada film Dilan yang juga diperani oleh Vanesha. Ceritanya sih seru. Tentang cewek dan cowok yang sahabatan terus saling suka tapi keduanya sama-sama memendam perasaan itu, sampai akhirnya mereka menikah. Udah, gitu aja. Ada beberapa scene yang memang lucu, sedih, so sweet. Tapi jika dibandingkan dengan film Dilan, masih lebih seru Dilan.

Ya ini sih menurut gue pribadi. Nggak tau gimana kalau menurut kalian. Pendapat orang kan berbeda-beda ya, guys.

Setelah nonton, gue dan teman gue langsung pulang ke rumah masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul 20:00.

Nah, jadi itulah cerita tentang seharian ini guys. Mulai dari kerja di toko bangunan, cod-an tiket, sampai nonton film.

Maaf kalau ceritanya panjang. Tujuan gue membagikan cerita ini hanya untuk berbagi pengalaman aja kok. Makasih ya buat kalian yang udah baca. Sampai bertemu di postingan gue selanjutnya ya. Cheers!

You Might Also Like

1 komentar