[ Cerpen ] Dean & Cakra

Namaku Dean. Dulu aku adalah seorang perempuan yang feminim dan sangat periang. Kebahagiaan selalu datang menghampiriku. Karena aku mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku.

Papaku adalah manager disalah satu perusahaan besar di Jakarta. Sedangkan mamaku adalah seorang desainer. Tak pernah ada kekurangan dalam hidupku. Aku merasa sangat bahagia.

Tapi..

Semuanya berubah saat aku mulai memasuki SMA. Papaku pergi meninggalkan aku dan mamaku. Ia tega menyakiti mamaku demi perempuan lain. Sejak saat itu, aku merasa hidupku hancur. Aku tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Kehidupanku sangat gelap.

Dean yang sekarang adalah dean yang berbeda. Rambutku aku cat berwarna merah. Aku menindik hidungku dan membuat beberapa tato ditangan.

Dengan baju seragam yang sengaja ku keluarkan dan ku gulung lengannya, aku pergi ke sekolah. Itu adalah hari pertamaku. Seluruh siswa disekolah itu menatapku dengan tatapan aneh. Tak ada satu orangpun yang mau berteman denganku.

Dikelas, aku duduk bersama seorang laki-laki yang bernama Cakra. Dari wajah dan penampilannya, bisa ku nilai bahwa dia adalah orang yang baik. Bisa ku tebak kalau dia adalah orang yang pandai. Terbukti dari nilai 100 yang selalu ia dapatkan setiap hari. Meskipun begitu, aku tidak ingin berteman dengannya. Aku takut ia seperti papaku.

Aku tidak punya semangat untuk sekolah. Sudah beberapa hari aku terlambat dan selalu mendapatkan nilai 0 dikelas. Akibat ulahku itu, aku dipanggil keruang guru. Guruku mengatakan bahwa aku akan di drop out dari sekolah. Kecuali jika ada perubahan dariku. Aku diberikan tambahan jam belajar setelah pulang sekolah. Guruku menugaskan siswa terpandai disekolah itu untuk mengajariku.

Ya, siapa lagi kalau bukan Cakra.

Kalau bukan karena takut di drop out, aku tak akan mau disuruh belajar bersama lelaki itu.

Hari pertama belajar dengan cakra, aku meninggalkannya dan pergi ke Mall. Hari kedua aku malah tertidur. Hari-hari berikutnya pun aku tak pernah belajar dengan serius bersama cakra. Tapi cakra tak pernah marah kepadaku. Dengan sabar cakra terus mengajariku.

Beberapa minggu setelah itu, ada sedikit perubahan dariku. Yang tadinya selalu mendapatkan nilai 0, sekarang nilaiku naik menjadi 2,5.

Aku mulai menaruh rasa percayaku kepada cakra. Ku ceritakan semua masa lalu pahitku kepadanya. Cakra selalu memberi semangat kepadaku.

Tanpa kusadari.. ternyata aku jatuh cinta kepadanya. Aku menyukai tingkah cakra yang jahil, meskipun terkadang aku marah jika dijahili olehnya. Aku juga sangat suka kalau cakra memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu untukku.

Nilaiku terus meningkat menjadi lebih baik. Sampai pada suatu hari, cakra mengajakku bertaruh. Kalau ulangan berikutnya aku berhasil mendapatkan nilai 100, cakra berjanji akan memberikan apapun yang aku mau.

Aku menerima tawaran itu. Aku belajar sungguh-sungguh demi mendapatkan nilai 100. Saat ulangan pun tiba. Setelah hasilnya dibagikan ternyata aku berhasil mendapatkan nilai 100.

Aku memamerkan nilaiku kepada cakra. Tapi ia hanya diam dan tersenyum. Wajahnya terlihat sangat pucat.

Keesokan harinya aku mendapati cakra tidak ada dikelas. Ia tidak masuk sekolah dan tidak mengabariku. Tidak biasanya ia seperti ini. Aku menanyakan kepada teman-temannya. Tapi tidak ada yang tau dimana keberadaan cakra. 3 hari berlalu tanpa ada cakra disampingku.

Saat pulang sekolah aku mendapat sebuah telepon. Dari suaranya terdengar kalau ia sangat panik.

" Dean, kondisi cakra semakin parah. Kamu harus ke rumah sakit sekarang. Nanti tante kirimkan alamatnya. "

Ternyata itu adalah mamanya cakra. Setelah aku mendapatkan alamatnya, aku langsung pergi kesana. Di perjalanan, aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri.

" Ada apa dengan cakra? Kondisinya semakin parah, apa ia sakit? Kalau iya kenapa cakra tak pernah memberitahuku? "

Pertanyaan itu terus terngiang dipikiranku. Aku tak bisa berhenti memikirkan cakra. Aku sangat khawatir dengan keadaannya.

Sesampainya disana mama cakra menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan cakra.

Cakra mengidap penyakit leukimia stadium akhir. Ia sudah beberapa kali melakukan kemoterapi. Beberapa hari yang lalu cakra kambuh dan harus menjalani kemoterapi lagi. Tapi kali ini tubuhnya sudah tidak kuat. Cakra sudah tidak bisa menerima obat-obatan itu. Kata dokter, mungkin cakra hanya tinggal menunggu waktu saja.

Aku terdiam sejenak. Memandangi tubuh cakra yang terbaring lemah. Tak terasa air mataku jatuh. Aku tak percaya hal ini akan terjadi. Rasanya aku ingin berteriak.

" Bangun cakra ! Apa kamu mau ninggalin aku? "

Tiba-tiba mama cakra menghampiriku dan memberikan sebuah surat. Itu adalah surat dari cakra.

________________________________________
Untuk Dean,

Dean, aku tak punya banyak waktu.
Aku tak punya banyak waktu untuk menemanimu.
Aku tak punya banyak waktu untuk bisa terus bersamamu lebih lama lagi.
Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu.
Ada banyak hal yang ingin ku katakan kepadamu.
Tapi sekali lagi harus ku katakan bahwa aku tak punya banyak waktu.

Dean, aku sangat senang bisa melewati hari-hari terakhirku bersamamu.
Duduk disampingmu.
Mendengar segala keluh kesahmu.
Mengerti akan masa lalumu.
Kamu membuat semuanya menjadi lebih berarti.

Apapun yang terjadi padaku nanti, aku mohon kamu jangan sedih.
Satu hal yang harus kamu mengerti.
Bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Kamu harus janji.
Kamu harus jadi dean yang lebih baik lagi. :)

Cakra.
________________________________________

Aku tak mampu menahan air mataku.
Membayangkan bagaimana hariku tanpa cakra. Kenapa aku harus kehilangan lagi? Kenapa semuanya pergi? Kenapa semuanya meninggalkanku?

Sekali lagi ku pandangi cakra dari kejauhan. Mengenang segala yang telah kulewati bersamanya. Saat ia mengajariku. Saat ia memainkan gitarnya. Saat ia menyanyikan lagu untukku. Aku tak tau, bisakah aku lebih baik tanpanya? atau malah menjadikanku lebih buruk?

Aku menghapus air mataku. Memberikan senyum terbaikku, seraya berkata lirih " aku sayang kamu cakra. "

Setelah itu aku pamit kepada mama cakra dan segera pulang kerumah.

Sesampainya dirumah aku langsung bercermin. Melihat sosok diriku yang sangat berantakan. Seorang wanita pengecut yang lari dari kenyataan. Yang membawa dirinya sendiri ke dalam kegelapan.

Aku teringat pesan cakra.
" Kamu harus janji. Kamu harus jadi dean yang lebih baik lagi "

Ya, aku berjanji. Aku akan menjadi dean yang lebih baik lagi. Aku akan merubah penampilanku seperti dean yang dulu. Dean yang selalu bahagia. Dean yang periang.

Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Menghela napas panjang dan mulai memejamkan mata. Tiba-tiba dering handphoneku berbunyi. Tanda bahwa ada telepon masuk. Telepon itu dari mamanya cakra. Aku segera menerima telepon itu. Terdengar isak tangis dan kesedihan yang teramat dalam, mama cakra berkata :

" Dean, cakra sudah pergi. "

Aku terdiam sejenak. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar. Membuat mata dan pikiranku menjadi kosong. Aku langsung menutup telepon itu. Aku tersenyum dan berkata " selamat jalan cakra.. "

You Might Also Like

17 komentar

  1. kumpulin kak, ntar di bukukan!

    BalasHapus
  2. Selamat jalan, cakra :') galau jadinya :(

    BalasHapus
  3. Mntep cerpennya gan sangat keren 😎

    BalasHapus
  4. Mari kita bersyukur yang masih memiliki badan sehat dan jadikan hidup ini bermanfaat bagi dirimu, keluargamu dan orang2 disekitarmu... munkin itu pesannya.

    BalasHapus
  5. karangan sendiri kah? bagus nih cukup menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  6. Terus nulis gan.. Jangan males kaya ane 😅

    BalasHapus
  7. wih keren nih udah bagus penulisannya coba post di wattpad pasti bakal lebih banyak yang mengapresiasi... semangat terus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sarannya kak, nanti aku coba post di wattpad :)

      Hapus
  8. mending nulis di wattpad aja min hehe kalo blog cerpen not recommended buat blog, sorry to say min, keep posting ur artikel :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. okay thank you for your saran :)

      Hapus
  9. Mirip 3600 detik ceritanya.

    BalasHapus